Welcome... Sampurasun...

Assalamualaikum wr. wb.
Bagaimana kabarmu hari ini? I hope you always be fine. :)
Well, penjelajah internet di seluruh dunia...
Selamat datang dan selamat bergabung...
Selamat berkunjung di blog buatan anak kelas 12 SMA ini.
Di blog ini, kamu bisa tahu segala hal dan kita bisa sharing ilmu juga, lho!

Di dunia maya maupun di dunia nyata, saya belajar. Maka dari itu jika ada kata-kata dalam posting yang kurang berkenan atau informasi yang diminta tidak sesuai karena ketidakjelasan sumber, mohon dimaafkan.

So, I just say thanks for your visiting...

Salam sobat..
Fida Fauziyya

Looking for Something?

Memuat...

Jumat, 15 Oktober 2010

Fanya dan Surat - Surat Rahasia

Guys, ini adalah salah satu cerpen buatanku. Readcast and don't forget to vote this, ok.! :)

Fanya dan Surat - Surat Rahasia

S
emenjak tinggal di kota kembang, kebiasaan Fanya berubah. Yang biasanya dia malas bangun jam 04.30 pagi ketika masih tinggal di Jakarta, sekarang dia sangat bersemangat bangun sepagi itu. Sekarang dia lebih suka membantu ibunya. Terkadang dia keluar untuk bermain bersama teman - temannya yang baru. Hal itulah yang membuat Fanya dan ibunya sangat bangga. Dan sekarang seminggu sudah Fanya berada di Bandung. Dia bersama ibunya sampai di pintu gerbang sekolah Fanya yang baru pukul 06.20.
"Ibu, apakah benar ini sekolah baruku? Aku tidak yakin punya banyak teman di sini."
"Fanya, di sini sekolahmu yang baru karena kemarin ayahmu sudah mendaftarkanmu ke sini. Tenanglah, Fanya. Kamu pasti akan punya banyak teman karena kamu anak yang supel.", jawab Ibu Asih.
"Tapi, Bu...", sahut Fanya.
"Sudahlah, Fanya. Percayalah ibumu. Sekarang ayo kita bertanya kepadanya.", jawab Ibu Asih sambil menunjuk kepada seorang penjaga sekolah.
Ibu Asih bertanya kepada penjaga sekolah untuk mengetahui letak ruangan kepala sekolah. Penjaga tersebut terlihat kurang ramah sehingga Fanya pun semakin takut. Kemudian Fanya dan ibunya masuk ke ruangan kepala sekolah. Terlihat bapak kepala sekolah yang bersikap ramah. Pak Bani, kepala sekolah dan Ibu Asih pun berbincang-bincang sebentar. Lalu Pak Bani meminta Fanya untuk memperkenalkan dirinya. Fanya nampak sangat gugup berkeringat walau hari masih pagi. Sesaat kemudian Pak Bani menunjukkan kelas yang akan ditempati Fanya.
Fanya masuk ke kelas VIII - A, seperti yang diinformasikan Pak Bani. Kemudian Fanya memperkenalkan dirinya kepada teman - teman barunya.
"Assalamualaikum, teman-teman..."
"Nnnn...namaa.. sss...sayyy..ya Ffff...Fanyy..nya."
"Uuuu...umuur.. sss...sayyy..ya ttt....tigg..ga bbb...bell...lass ttt...tahh...uu..un."
"Sss...sayyy...ya ppp...pindd..dahan ddd...darr..ri Jjj...jak...kkarr...ttta."
"Ccc..cukk...kuu..up, Pak. Ttt...terr...rimm..ma kk..kass...sih", Fanya berkata dengan gugupnya.
Kemudian dia duduk sendiri di belakang. Di sekolahnya di Jakarta, Fanya termasuk anak yang pintar dan berani. Di sekolah barunya dia juga pintar tetapi kini dia menjadi anak yang pemalu. Setiap hari dia selalu sendiri. Fanya hanya tersenyum bila ada salah satu temannya ingin mengajaknya pergi bersama. Hal itu membuat Rio, teman sekelasnya iba melihat kesendirian Fanya.
Ketika Fanya pulang sekolah, dia menerima sepucuk surat tak bernama dari Pak Pos. Fanya membaca surat tersebut yang berisikan karakter dan alamat rumah pengirim tersebut. Fanya pun semakin penasaran kepada pengirim surat itu dengan menerima kiriman surat-surat tak jelas itu tetapi apa yang dia baca dari surat-surat tak bernama pengirimnya itu? Sang pengirim hanya menanyakan kabar Fanya dan perkembangannya di sekolah barunya.
Dan tahukah kamu apa yang terjadi dengan Fanya di keesokan harinya?
"Aku akan membalas semua surat-surat dari pengirim bodoh ini!", katanya penuh amarah.
Tak hentinya Fanya mencela si pengirim rahasia. Tak hanya di mulutnya yang mengeluarkan kata-kata yang tidak pantas, di dalam surat balasannya pun demikian adanya yang sama dengan hatinya yang penuh dengan kebencian terhadap pengirim rahasia itu. Namun, sang pengirim surat terus saja mengirimkan surat-surat tak bernama pengirimnya itu. Ibunya merasa sedih melihat kondisi anaknya.
Keesokan harinya lagi...
"Dasar, pengirim surat bego!", teriak Fanya di kamar tidurnya.
Ibu Asih yang mendengar teriakan Fanya langsung ke kamarnya melihat kondisi anaknya.
"Nak, kenapa kamu berteriak? Apa kamu tidak malu dengan tetangga sekitar kita?"
"Habis, ini Bu. Si pengirim jail ini terus saja mengirim surat-surat aneh tanpa henti."
"Kalau begitu, kamu harus meminta maaf kepada si pengirim surat itu. Mungkin kamu..."
"Maksud ibu apa? Dia yang salah, bukan aku. Huh, ibu lebih membela si pengirim surat ini tapi ibu tidak mengenalnya.", balas Fanya kepada ibunya.
"Astagfirulloh, nak. Kamu sudah kelewatan! Baiklah, ibu tidak akan memberikanmu uang saku selama dua minggu kecuali kamu secepatnya membalas surat itu dengan isi meminta maaf dan ingin bersahabat dengannya tanpa ada hal-hal yang kurang baik!", ketus ibunya.
Setelah mendengar kata-kata terakhir itu, Fanya menutup pintu dan menangis menyesali perbuatannya membentak ibu kandungnya sendiri. Sesegera mungkin dia mengambil secarik kertas dan menulis dengan pena kesayangannya. Fanya meminta maaf dan memohon supaya si pengirim rahasia mau bersahabat dengan Fanya. Fanya pun mengirimkan surat tersebut dan pada hari Minggunya ada balasan surat dari si pengirim rahasia yang mengaku bernama Riko, teman lamanya di Jakarta.
Mendengar nama itu sudah tak asing lagi di telinga Fanya. Kemudian dia membaca surat itu sampai selesai dan memang benar bahwa yang mengirim surat - surat tak bernama itu adalah Riko. Riko juga mengetahui kesendirian Fanya ketika pindah dari Jakarta melalui kontak telepon dengan Rio, saudara kembarnya. Pipi Fanya memerah malu dan tersenyum senang karena selama ini teman lamanya perhatian padanya. Kemudian dia menceritakan hal ini kepada ibunya.
"Bu, coba lihat ini.", kata Fanya sambil membawa surat itu dan berlari menuju ibunya.
"Ada apa, nak? Kamu terlihat sangat senang.", jawab ibunya yang sedang menyiram tanaman.
"Ini, Bu. Ada surat dari Riko, teman lamaku di Jakarta. Coba ibu baca surat ini"
Ibu Asih pun membaca surat tersebut dan ...
"O, jadi nak Riko yang mengirimkanmu surat - surat tak jelas itu. Ya, dugaan ibu benar, nak."
"Dugaan apa, bu? Mengapa kini ibu baru menjelaskannya?", Fanya bertanya pada ibunya.
Kemudian ibunya menceritakan kejadian yang sesungguhnya. Ternyata sebenarnya Riko menampakkan namanya pada surat - surat tak jelas itu. Tetapi Riko mengirimkan terlebih dahulu kepada Rio. Kemudian Rio mengganti amplopnya dan mengirimkannya kepada Fanya melalui kantor pos secara sembunyi - sembunyi. Fanya menertawakan dirinya sebab selama ini dia ditipu daya. Namun Fanya juga senang karena akhirnya dia merasa lega dan sudah mengetahui pengirim rahasia. Saat itu juga Fanya berkata bahwa dia akan berubah. Ada kejutan untuk teman - temannya, terutama Rio.
Berubah? Apakah dia akan kembali menjadi anak yang pemalas seperti dulu?
Bukan itu jawabannya.
Dan besok paginya ketika di kelas...
"Assalamualaikum, teman - teman.", seru Fanya kepada teman - temannya.
Dia juga menyapa teman - teman dan menghormati semua gurunya.
Dan kini Fanya sering menolong teman - temannya ketika mereka ada pelajaran yang kurang dimengerti, terkecuali dalam mengerjakan tugas dan mengerjakan soal ulangan. Dia senang karena dia memiliki teman - teman baru yang sangat ramah walaupun dia rindu akan teman - teman lamanya di Jakarta. Ibu Asih pun senang sebab Fanya kembali menjadi anak yang supel dan ceria seperti dulu. Fanya juga terlihat senang. Ternyata tidak selamanya pindah ke tempat lain itu menakutkan.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Silakan memberikan pendapat, komentar, dan saran pada kolom di bawah ini! Terimakasih. :)